Minggu, 30 Agustus 2009

Analisa Usaha Tanaman Kentang


ANALISA HASIL KENTANG /HEKTAR LAHAN



waktu tanam 110 hari




NO NAMA BAHAN KEBUTUHAN SATUAN HARGA SATUAN JUMLAH KETERANGAN
1 Pupuk kandang 20,000 kg 250 5,000,000 pupuk dasar
2 kapur(dolomit) 400 kg 250 100,000 pupuk dasar
3 ZA 300 kg 650 195,000 pupuk dasar
4 SP36 300 kg 650 195,000 pupuk dasar
5 Phonska 300 kg 650 195,000 pupuk dasar
6 KCL 100 kg 650 65,000 pupuk dasar







7 Super K 15 liter 50,000 750,000 pupuk lanjutan/untuk umbi atau buah
8 Vitabloom 15 kg 56,000 840,000 pupuk lanjutan/perangsang tanaman
9 Mamigro 15 kg 24,000 360,000 pupuk lanjutan/daun
10 Atonik/Multimikro 10 liter 67,000 670,000 penyedia unsur mikro
11 NPK mutiara 10 sak 385,000 3,850,000







12 Curacron 11 liter 95,000 1,045,000 Insektisida ulat
13 Mkozep 60 kg 78,000 4,680,000 Fungisida
14 agristick/triton 15 liter 15,000 225,000 Perekat
15 Dursban 4 liter 60,000 240,000 Fungisida





18,410,000








tenaga kerja 440 hari 25,000 11,000,000

bibit 1,200 kg 12,000 14,400,000

TOTAL BIAYA


43,810,000

HASIL 30,000 KG 3,000 90,000,000

PROFIT


46,190,000







Jumat, 28 Agustus 2009

Kenapa kentang ????

Pada akhir bulan November 2008, kami mensurvey lahan pertanian di desa Mulyoasri, Kecamatan Ampel Gading, Malang Selatan. Pada awalnya cukup seru juga, kita tidak bisa di tunjukkan lokasi nya karena kondisi pada saat itu hujan deras dan jalan menuju lokasi masih jalan tanah yang pastinya licin jika hujan. Setelah melalui proses perjuangan yg cukup panjang dan melelahkan akhirnya kami mampu mendapatkan lahan seluas 12Ha. Kenapa kami tertarik sekali dengan lahan tersebut, karena kenyataan bahwa lahan tersebut selama kurang lebih 20 tahun tidak pernah di garap, sehingga humus dan unsur hara nya sangat tinggi... masih lahan perawan gitu.
Pada bulan Februari 2009, mulailah kegiatan Altara Farm.
Waktu pertama buka lahan, kami belum bisa menentukan apa yang ingin kami garap di lahan seluas itu, saya mencoba belajar di Parung, Bogor, untuk melihat peluang apa yang bisa kami jalankan. Kami belajar hidroponik, tanaman organik, dengan jenis tanaman Hortikultura. Dari belajar hidroponik ini lah yg membawa kami ke daerah Bantaeng, Sulawesi Selatan untuk belajar teknik penanaman tanaman kentang secara aeroponik. Tanaman kentang tersebut ternyata adalah merupakan hasil perbanyakan kultur jaringan kentang, untuk di jadikan bibit kentang yg unggul. Kami bertemu dengan Prof. Baharuddin, yang merupakan staf pengajar di jurusan Ilmu Hama dan Penyakit, Universitas Hasanuddin, Makassar,, yang memberikan masukan kepada kami untuk mencoba menjadi penangkar bibit kentang hasil kultur jaringan beliau. Setelah mendapat penjelasan dari beliau, akhirnya kami tahu kendala sebagian besar petani kentang adalah ketersediaan bibit yang berkualitas dan terjamin generasi keberapanya. Petani kentang saat ini banyak yg tidak tahu bibit mereka itu sudah ditanam berapa kali, yang tentu saja membawa pengaruh terhadap hasil produksi mereka. Menurut Prof, Baharuddin, kentang dengan bibit yg unggul dan perawatan maksimal dapat menghasilkan antara 25 sampai 35 ton/hektarnya. Bahkan di daerah Sulawesi Utara ada informasi petani kentang di sana dapat mencapai hasil sekitar 50 ton/ hektar. Dibandingkan dengan hasil kentang di daerah Batu, dan Ngadas Jawa Timur yg maksimal 15 ton perbulan, tentu hampir separuh dari produksi maksimal tanaman kentang itu sendiri. Walaupun di daerah Ranupani dan Tosari di kabarkan dapat menghasilkan lebih dari itu. Namun secara menyeluruh hasilnya tidak merata.
Jadi petani dengan modal besar, tanamannya biasanya hasilnya baik, sedangkan petani dengan modal kecil tanamanannya kurang baik.
Hal ini di akibatkan karena mahal nya harga bibit konsusmsi kentang itu sendiri, dari info yg kami dapatkan, untuk kentang Granola generasi Ke-3 petani harus membeli dengan harga Rp 14.000/kg nya. Jadi untuk lahan seluas 1 hektar petani harus mengeluarkan dana sebesar Rp 14 juta untuk bibit. Itupun kalau benar generasi ke 3.... kalau sudah generasi ke 100 tapi di bilang generasi ke 3 pun kita tidak bisa membedakan. Perbedaannya nanti kelihatan kalau sudah panen.... hasilnya banyak atau sedikit, kalo banyak, berarti bener... kalau sedikit berarti bangkrut.
Dengan bimbingan dan arahan dari beliau, sehingga kami tertarik untuk membuat penangkaran benih kentang di Mulyoasri, Malang. Tentunya di awali dengan analisa tanah, air, dan iklim yg kami lakukan di Universitas Brawijaya Malang. Pada awal bulan April 2009, kami melakukan percobaan proses aklimatisasi pertama dari kultur jaringan kentang jenis Granola L, dengan mendatangkan bibit kultur sebanyak 100 botol, dan mendatangkan bibit kentang Granola L generasi ke 2, dari penangkaran bibit Bantaeng, Sulawesi Selatan.
Proses perbanyakan benih yang dari botol sampai sekarang masih berlangsung, target kami adalah dapat menghasilkan 2jt umbi kentang benih.
Penanaman bibit kentang di lahan sendiri kami lakukan pada awal bulan Juni 2009, sehingga sampai sekarang (Agusutus 2009) sudah memasuki masa panen, ternyata hasilnya sangat memuaskan. Dari luas lahan 0.5 hektar kami dapat menghasilkan 22.5 ton kentang. Berarti dapat mencapai 45 to/ hektar nya... Lumayan... :)
Nah.... Mudah2an hasil yang kami capai tersebut dapat bermanfaat bagi orang lain, karena pada dasarnya kami melakukan kegiatan ini di dasari niat untuk membantu petani di daerah Mulyoasri pada khususnya untuk dapat meningkatkan taraf hidup mereka. Sy berharap, daerah desa Mulyoasri dapat menjadi salah satu sentra pertanian kentang di Jawa Timur, mengingat kondisi geografis yang sangat memungkinkan untuk hal itu terjadi....